Wayang Purwo Indonesia

Kunti Perawan yang Sudah Berputra

Posted in Mahabharata by wayangpurwo on February 17, 2010

Judul di atas sulit diterima oleh akal bila dikaji secara rasional, bahwa ada wanita yang melahirkan anak tetapi ia masih tetap perawan. Lain halnya di zaman kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran, wanita dapat melahirkan anak hanya dengan menyuntikkan sperma laki-laki ke dalam tubuhnya dan si anak tetap keluar dari rahimnya (inseminasi). Lebih lain lagi hanya bila seorang gadis melahirkan anak di luar nikah istilah sopannya disebut “kecelakaan”.

kehamilan Dewi Kunti berawal dari sebuah mantra yang disebut Aji Dipa pemberian resi Druwasa yang keampuhannya dapat mendatangkan seorang dewa yang dikehendaki. Tentu saja mantra itu tidak boleh dipergunakan di sembarang waktu, terlebih di saat sang surya sedang menyinarkan cahanya karena akan mendatangkan malapetaka kepada dirinya. Namun rupannya sang dewi merasa penasaran ingin mencoba sejauh mana keampuhan mantra itu. Dengan tidak memperdulikan larangan dan akibatnya, ia bersemadi dan membaca mantra justru di saat sang surya sedang berkuasa menyinari alam marcapada atau dunia manusia yang penuh dihuni berbagai makhluk hidup.

Di kala sang dewi sedang tenggelam dalam semadi, tiba-tiba muncul seberkas cahaya yang sangat terang masuk ke dalam kamar dan cahaya itu redup menjelma menjadi sosok tubuh laki-laki berwajah tampan yang tak lain adalah Dewa Batara Surya berdiri di hadapan sang dewi dan bersabda: “Wahai dewi, akulah dewa surya penguasa alam siang. Aku datang memenuhi panggilanmu, dan aku akan menanamkan benih suci di rahimmu. Tetapi engkau tak perlu khawatir, keperawananmu akan tetap terjaga dalam keadaan tetap suci,” ujarnya.

Kunti menyembah dengan ketakutan: “Oh, bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana tuan tiba-tiba ada disini? Hamba tak mengerti.”

Surya : “Hemmm, apa yang baru saja engkau lakukan, Kunti?”

Kunti : “Bersemadi, seperti yang dikatakan resi Druwasa, lalu hamba mencobanya. Itu saja.”

Surya : “Ya, itu sebabnya aku datang memenuhi panggilanmu.”

Kunti : “Tapi, tapi…..”

Surya: “Engkau telah mencobanya justru di saat yang dilarang oleh resi Druwasa. Dilarang tapi engkau tetap mencobanya. Itu sebabnya engkau akan mendapat hasilnya.”

Kunti : “Oh, tidak, tidak, hamba tidak bermaksud berbuat yang tidak baik. Hamba berusaha menjaga kesucian.”

Surya : “Engkau harus mengerti dan setiap wanita harus mengerti, bahwa ada sesuatu yang keluar dari rahimnya, dan kini engkau telah mencobanya melalui mantra suci, maka engkau akan tetap suci.”

Selanjutnya apa yang dilakukan oleh Dewa Surya terhadap Kunti, hanya Kunti yang tahu. Yang pasti Kunti telah berbuat, Kunti telah melakukan dan Kunti telah mengalami lewat kesucian mantra. Setelah itu Dewa Surya berlalu dan tak lama kemudian sang Dewi pun hamil.

Di saat sang dewi melahirkan terjadi sesuatu yang tak masuk akal. Anak itu lahir tidak melalui rahim, tetapi keluar dari telinga. Karena itu si anak diberi nama Karna yang artinya Telinga. Kunti masih tetap suci walau ia telah berputra.

Bagaimanapun, walau Kunti masih suci tetapi ada bukti seorang bayi. Sebagai wanita yang punya etika perasaan malu tetap ada. Ia takut menjadi bahan pergunjingan khalayak. Maka secara diam-diam si bayi dimasukkan ke dalam “Kandaga” kemudian dilarung ke sungai Aswanadi dan hanyut sampai ke tanah Angga (Awangga) serta ditemukan oleh seorang kusir bernama Adirata dan diakui sebagai anaknya.

Nasib baik telah menanti di saat dewasa ia diangkat menjadi bupati daerah Awangga oleh raja Duryudana yang berkuasa di negeri Astina. Pengangkatan itu bersifat politis, karena kegagahannya dapat diandalkan dalam perang melawan kaun Pandawa.

Bila dikaji maknanya, Kunti bukan sekadar masih suci, bukan pula si anak lahir bukan dari rahimnya, tetapi kehamilannya itu merupakan peristiwa “aib” bagi seorang gadis akibat nekad ingin mencoba akhirnya jadi malapetaka. Tidak jarang diberitakan di mass media seorang gadis melahirkan anak di luar pernikahan, kemudian bayinya dibuang begitu saja untuk menghindari rasa malu.

Cerita wayang banyak terjadi dalam kehidupan nyata, karena wayang adalah “bayangan” perilaku manusia, tetapi wayang bukan sejarah manusia. Para pujangga menciptakan bukan sekadar mencipta tanpa makna, melainkan merupakan simbol kehidupan yang dapat dipetik inti sarinya, setidaknya dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dengan kehidupan di alam nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: